BERITA TERPERCAYA HANYA DI DUNIA PANEL

Sunday, December 18, 2016

PIRAMIDA SAFETY, HAL DASAR YANG HARUS DI KETAHUI SAFETY OFFICER DAN SUPERVISOR.

Piramida safety


Piramida Kecelakaan Kerja menggambarkan statistik urutan (rangkaian) kejadian yang terjadi menuju 1 (satu) kecelakaan fatal (kematian/cacat permanen). Lebih jelasnya dapat dijabarkan dalam teori piramida kecelakaan kerja sebagai berikut :

Suatu perusahaan dengan tingkat kejadian hampir celaka (nearmiss) tinggi, akan sangat berpotensi mengalami kecelakaan yang berakibat pada kerusakan alat (property damage). Saat tingkat kerusakan alat akibat kecelakaan menunjukkan angka yang tinggi, maka potensi karyawan/pekerja cidera sangat bisa terjadi. Dan begitu juga dengan kejadian yang berakibat cidera ringan pada karyawan/pekerja, jika statistic menunjukkan karyawan/pekerja banyak yang mengalami cidera ringan, maka kecelakaan yang berakibat fatal/mati sangat mungkin bisa terjadi.

Setiap terdapat 1 (satu) kejadian kecelakaan fatal (kematian/cacat permanen) maka di dalam 1 (satu) kejadian fatal tersebut terdapat 10 (sepuluh) kejadian kecelakaan ringan dan 30 (tiga puluh) kejadian kecelakaan yang menimbulkan kerusakan aset/properti/alat/bahan serta 600 (enam ratus) kejadian nearmiss (hampir celaka) sebelum terjadi 1 (satu) kejadian kecelakaan fatal tersebut. Piramida kecelakaan kerja tersebut menggambarkan bahwa untuk (guna) mencegah kecelakaan fatal di tempat kerja, maka harus terdapat upaya untuk menghilangkan (mengurangi) kejadian-kejadian nearmiss di tempat kerja sehingga probabilitas menuju kejadian kecelakaan fatal dan kejadian-kejadian lain sebelum menuju adanya 1 (satu) kejadian fatal dapat dikurangi (tidak ada).

 Kita bisa belajar banyak dari kejadian nearmiss yaitu dengan melakukan pemeriksaan kejadian (investigasi). Dengan melakukan investigasi terhadap kejadian nearmiss kita bisa mengetahui penyebabnya tanpa harus mengalami kerugian. Berbeda dengan investigasi pada kecelakaan yang berakibat kerusakan alat (property damage), kita melakukan investigasi pada kejadian yang sudah mengakibatkan kerugian. 
gambar .(petugas safety sedang menganalisa potensi bahaya)

Sebagian orang menyebut investigasi nearmiss adalah 'Gladi resik/gladi bersih', kita bisa mendapatkan root cause (akar masalah) tanpa harus mengalami kerugian.

Jadi, mana yang anda pilih ? membiarkan nearmiss tanpa diinvestigasi atau lebih suka menginvestigasi property damage..?

Selain itu juga, teori piramida kecelakaan ini bisa menjadi dasar pertimbangan apabila suatu perusahaan memiliki catatan kecelakaan baik, namun tiba-tiba terjadi kecelakaan berakibat fatal/mati. maka perlu dicurigai, banyak kecelakaan yang tidak dilaporkan.

Peran aktif dari pekerja yang melaporkan setiap nearmiss yang ditemukan di lapangan sangat membantu petugas safety untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi sumber bahaya. hal ini sangat penting sekali karena dapat meminimalkan potensi bahaya di area kerja.

semoga bermanfaat
salam safety 

Friday, December 16, 2016

DEFINISI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja. Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Jackson (1999, p. 222), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.

read more~ http://learnmine.blogspot.co.id/2015/04/keselamatan-dan-kesehatan-kerja.html
Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja. Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Jackson (1999, p. 222), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.

read more~ http://learnmine.blogspot.co.id/2015/04/keselamatan-dan-kesehatan-kerja.html
Keselamatan dan kesehatan kerja K3 adalah kondisi dimana semua potensi bahaya di area kerja sudah dikendalikan dan di minimalkan dampak dari potensi bahaya tersebut.
Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja.
 Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Jackson (1999, p. 222), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.
 
Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja. Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut. Jackson (1999, p. 222), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.

read more~ http://learnmine.blogspot.co.id/2015/04/keselamatan-dan-kesehatan-kerja.html
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan ma-syarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). 
 gambar 1

Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.

Wednesday, December 14, 2016

TIPS AMAN BEKERJA DI KETINGGIAN/WORKING AT HEIGHT

Bagi para pekerja di bidang kontruksi mungkin biasa menemukan atau mengalami bekerja di ketinggian terutama ketika sudah masuk ke tahap struktur dan finishing. Kecelakaan yang di akibatkan terjatuh dari ketinggian dampak nya fatal sekali. Maka dari itu saya sampaikan tips aman bekerja di ketinggian.

Bekerja dengan menggunakan Tangga
  • Pilih tangga, dengan ketinggian yang sesuai
  • Apabila bekerja dengan listrik, spesifikasi tangga harus tahan terhadap tegangan listrik (electrical insulation)
  • Jangan berdiri di atas ujung tangga, maksimal 2 step dari anak tangga yang paling atas utntuk pegangan tangan
  • Letakkan tangga di lantai yang datar
ladder_safety1
  • Apabila menggunakan anak tangga, berdirikan tangga dengan sudut 75o
  • Pastikan ada 1 orang untuk memegang tangga saat dinaiki
  • Jangan meraih atau bekerja di samping kiri atau kanan
  • Penggunaan tangga hanya untuk ketinggian < 2 meter.
  • Pastikan tangga di ikat kuat di ujung atas tangga
  • Sebelum digunakan cek tangga pastikan tidak ada keretakan atau sambungan

Tuesday, December 13, 2016

INSPIRASI, RAHASIA SUKSES CATERPILLAR DALAM MENCIPTAKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KELAS DUNIA

" Dalam kurun waktu 10 tahun, Caterpillar berhasil melakukan penghematan sebesar $450 juta karena proaktif dalam menciptakan dan melakukan perubahan terkait strategi keselamatan dan kesehatan kerja (K3)."
Siapa yang tidak kenal perusahaan raksasa Caterpillar? Produsen peralatan konstruksi dan pertambangan, engine diesel dan gas alam, dll. terbesar di dunia ini, ternyata sangat fokus dalam merancang dan melakukan perbaikan terkait program keselamatan dan kesehatan kerjanya.


Dalam mewujudkan lingkungan kerja yang aman dan meminimalkan angka kecelakaan kerja, perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat ini ternyata memiliki rahasia sukses. Apakah kunci sukses Caterpillar dalam menciptakan program K3?

Caterpillar Gunakan Leading Indicator yang Proaktif untuk Menciptakan Keselamatan Kerja Kelas Dunia
Apa itu leading indicator? Apa kaitannya dengan keselamatan kerja di sebuah perusahaan? Dalam dunia K3, istilah leading dan lagging indicator atau biasa juga disebut dengan indikator awal dan indikator akhir sudah tidak asing lagi terdengar. Para ahli K3 menggunakan leading dan lagging indicator untuk mengukur tingkat keberhasilan penerapan K3 di suatu perusahaan.


Pengukuran K3 menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan efektivitas kinerja K3 dan memperbaiki program K3 yang kinerjanya belum maksimal, demi terciptanya lingkungan kerja yang aman dan zero accident. Lantas apa bedanya leading indicator dengan lagging indicator?

Lagging Indicator
Lagging indicator lebih berfokus kepada kecelakaan kerja yang disusun dalam bentuk data statistik. Contohnya:
  • Frekuensi terjadinya kecelakaan kerja dan tingkat keparahan kecelakaan kerja.
  • Hari kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja (PAK).
  • Biaya kompensasi untuk pekerja yang mengalami kecelakaan kerja atau PAK.
  • Dan lain-lain.
Melalui lagging indicator, para ahli K3 akan melakukan tindakan semaksimal mungkin agar indikator kecelakaan tersebut selalu dalam posisi nol. Hanya saja lagging indicator ini memiliki kelemahan. Lagging indicator tidak mencerminkan seberapa baik aktivitas pencegahan kecelakaan kerja yang manajemen lakukan. Indikator tersebut hanya memberi tahu seberapa banyak pekerja yang cedera dan seberapa parah cederanya.

Leading Indicator
Berbeda dengan lagging indicator, leading indicator atau indikator awal berfokus pada seberapa baik tindakan pencegahan yang manajemen lakukan agar tidak terjadi kecelakaan kerja. Contohnya:
  • Pelatihan K3
  • Identifikasi dan perbaikan penerapan ergonomi
  • Pengurangan risiko MSD
  • Audit K3
  • Induksi K3 untuk pekerja baru dan pekerja lama
  • Program K3
  • Rapat K3
  • Dan lain-lain.
Melalui leading indicator, manajemen dapat mengukur performa kinerja K3 dan perbaikan apa yang harus dilakukan untuk meminimalkan angka kecelakaan kerja.

Apa rahasia Caterpillar dalam menggunakan leading indicator?
Pada tahun 2002, lebih dari 20.000 pekerja mengalami cedera, sehingga Caterpillar harus mengalami kehilangan hari kerja sebanyak 63.000. Imbasnya tak hanya pada internal perusahaan saja, reputasi perusahaan di mata klien juga menjadi buruk. Banyak klien yang mengurungkan kerja samanya karena buruknya manajemen K3 di Caterpillar.

Akhirnya, pada tahun 2003, manajemen menggunakan leading indicator untuk menciptakan keselamatan dan kesehatan kerja yang efektif dan bisa mengurangi angka kecelakaan kerja sebesar-besarnya. Dengan memanfaatkan Safety Strategic Improvement Process (SIP), akhirnya mereka pun berhasil meminimalkan angka kecelakaan kerja dan melakukan penghematan biaya langsung/ tidak langsung. Dalam kurun waktu 10 tahun, Caterpillar berhasil mengurangi cedera sebanyak 85 persen dan berhasil melakukan penghematan biaya sebesar $450 juta.

Elemen apa saja yang termasuk dalam Safety Strategic Improvement Process (SIP)?
  1. Menciptakan safety culture yang kuat.
  2. Sistem manajemen K3 yang komprehensif, peralatan kerja dan perlengkapan keselamatan kerja yang memadai.
  3. Keterlibatan pemimpin dan manajer dalam proses K3.
  4. Peran dan tanggung jawab manajemen K3 yang jelas.
  5. Konsisten dalam menentukan target dan pelaporan kinerja K3.
  6. Konsisten memprioritaskan isu K3 saat rapat.
  7. Rekognisi perilaku kerja aman (safety behavior) dan kinerja para pekerja dalam menerapkan K3.

*             *             *

Untuk meningkatkan performa kinerja K3 di perusahaan, sebaiknya Anda menggunakan leading dan lagging indikator secara bersamaan. Sebab dari situ, Anda bisa benar-benar melihat seberapa efektif program K3 yang diterapkan dan untuk memastikan semua pekerja dapat pulang ke rumahnya dalam kondisi selamat. Rahasia sukses Caterpillar dengan memanfaatkan SIP pada leading indicator di atas juga dapat Anda jadikan inspirasi untuk mengembangkan/ melakukan perbaikan pada program K3 di perusahaan Anda. Semoga bermanfaat, sobat pro safety.



Semoga Bermanfaat. Salam safety!
By Copywriter PT Safety Sign Indonesia
Sumber: www.SafetySign.co.id


TRIK AGAR SAFETY TALK/TOOL BOX MEETING TIDAK MEMBOSANKAN

Sebagian pekerja di sektor konstruksi atau pertambangan mungkin pernah berpendapat bahwa mengikuti toolbox meeting/safety talk terkadang terasa membosankan, karena materi yang disampaikan "itu-itu saja" dan selalu diulang-ulang. Bukankah kita semua tahu kalau keselamatan dan kesehatan kerja itu penting. Lantas, mengapa toolbox meeting/safety talk harus dilakukan berulang-ulang?
Karena safety talk/toolboox meeting merupakan media untuk menyampaikan dan mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan kerja dan progres pekerjaan. 
Sebagai pekerja konstruksi atau pertambangan, sebetulnya ada beberapa hal penting yang perlu Anda pahami mengenai toolbox meeting/safety talk ini. Apa itu toolbox meeting/safety talk dan mengapa harus dilakukan rutin sebelum memulai sebuah pekerjaan?
Bagi Anda yang bekerja di sektor konstruksi atau pertambangan mungkin tidak asing lagi mendengar istilah toolbox meeting. Toolbox meeting atau safety talk merupakan pertemuan singkat yang umumnya dilakukan pada pagi hari sebelum dimulainya pekerjaan yang dipimpin oleh supervisor atau safety officer. Rapat singkat ini biasanya membahas topik keselamatan dan kesehatan kerja yang bervariasi. Mulai dari review pekerjaan sebelumnya, pembagian tugas kepada masing-masing pekerja, prosedur kerja, dan paling penting adalah mengingatkan kembali kepada seluruh pekerja mengenai peraturan K3.

Mengapa materi toolbox meeting akan pentingnya K3 selalu disampaikan berulang-ulang? Inilah yang perlu dipahami para pekerja, pengulangan materi toolbox meeting bukan berarti Anda dianggap belum tahu, tetapi hal ini merupakan suatu proses internalisasi atau proses pembentukan budaya K3 (safety culture) di perusahaan Anda.
Tujuannya tak lain agar setiap tahapan pekerjaan yang Anda lakukan harus selalu memperhatikan aspek K3. Aspek tersebut harus selalu dilibatkan dan diutamakan dalam membuat perencanaan maupun pelaksanaan pekerjaan. Baik meliputi penggunaan alat pelindung diri (APD), pemasangan rambu-rambu K3, hingga metode pelaksanaan pekerjaan itu sendiri harus mempertimbangkan aspek K3.
Terutama bagi pekerja di sektor konstruksi atau pertambangan yang angka kecelakaan kerjanya terbilang masih tinggi, toolbox meeting ini bisa dijadikan penunjang dalam upaya mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan mendiskusikan berbagai masalah pekerjaan terkait K3 serta pelaksanaannya di lapangan.
Siapa saja yang ikut dalam toolbox meeting?
Supervisor, safety officer,site manager, project manager serta seluruh pekerja yang terlibat dalam suatu pekerjaan tertentu. Khusus untuk industri gas dan minyak bumi, foreman dan engineer juga wajib mengikuti toolbox meeting.
Bagaimana pelaksanaan toolbox meeting agar tidak membosankan?
Toolbox meeting yang dilakukan secara rutin dan bertujuan menekankan pentingnya penerapan K3 dalam suatu pekerjaan, pastikan pertemuan singkat ini menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Sebagai supervisor atau safety officer yang menjadi koordinator meeting, Anda harus mencari cara agar toolbox meeting tidak membosankan. Berikut trik yang dapat Anda praktekkan saat melakukan toolbox meeting:
1. Menggunakan pendekatan baru dengan studi kasus
Agar pekerja lebih antusias dan termotivasi mengikuti toolbox meeting, alangkah baiknya jika Anda menggunakan pendekatan atau metode baru. Salah satunya dengan studi kasus, Anda bisa menceritakan contoh kasus sesuai pekerjaan yang hendak dilakukan, kecelakaan kerja, atau berhubungan dengan audiensi hal ini akan manarik minat peserta toolbox meeting dan dapat dijadikan gambaran bagi peserta safety talk.
2. Menyampaikan informasi atau isu terbaru terkait K3
Selain membahas mengenai prosedur kerja, potensi bahaya, dan pengendaliannya, Anda juga bisa menambahkan informasi menarik dan ter-update yang berhubungan K3 atau pekerjaan yang akan dilakukan. Materi ini tentu akan disukai para pekerja karena memberikan informasi baru bagi mereka, terutama bagi pekerja baru. Anda dapat mencari artikel safety di internet untuk bahan penyampaian saat toolbox meeting.
3. Libatkan pekerja dalam toolbox meeting
Ajak para pekerja untuk lebih aktif menyampaikan pendapatnya dalam toolbox meeting. Anda bisa meminta pendapat para pekerja mengenai suatu topik. Selalu respons setiap pertanyaan yang diajukan oleh audiensi meeting. Terjalinnya komunikasi dua arah antara supervisor atau safety officer dengan pekerja menjadikan toolbox meeting berlangsung lebih akrab dan hangat. Keaktifan pekerja dalam toolbox meeting dapat mencerminkan kepedulian mereka mengenai penerapan K3 di tempat kerja.

4. Buatlah toolbox meeting yang ringkas, padat, dan jelas
Penyajian materi yang bertele-tele hanya akan membuat suasana meeting jadi membosankan. Selain pemilihan topik yang menarik, pastikan pembahasan juga dibuat ringkas, padat, dan jelas. Pastikan juga
waktu toolbox meeting tidak melebihi 10-15 menit. Adapun hal-hal yang dijelaskan dalam toolbox meeting, di antaranya:
  • Pekerjaan yang akan dilakukan, termasuk prosedur pelaksanaannya.
  • Bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut.
  • Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan secara benar dan aman.
  • Tindakan pengendalian bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
  • Isu atau informasi terbaru mengenai K3 atau berhubungan dengan topik yang diangkat.
  • Temuan hasil safety patrol di hari kemarin
  • Perbaikan prosedur kerja apabila di temukan ketidak sesuaian di lapangan
5. Berikan penghargaan kepada pekerja yang aktif menerapkan K3
Penghargaan atau reward juga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kinerja dan memotivasi pekerja agar bekerja lebih baik lagi. Namun, penghargaan di sini bukan terkait pemberian bonus dalam bentuk materi atau hadiah lainnya, tetapi dalam bentuk sertifikat kepada pekerja yang telah melakukan pekerjaan dengan baik dengan menerapkan K3.
Meski waktunya terbatas, pelaksanaan toolbox meeting tidak boleh main-main. Supervisor atau safety officer yang bertugas sebagai koordinator harus merencanakan toolbox meeting sebaik dan se-efekif
mungkin. Pastikan semua pekerja yang terlibat memahami apa yang telah dijelaskan pada toolbox meeting. Anda dapat mengeceknya dengan cara bertanya dan membenarkan pendapat dari pekerja
Safety reward dapat memotivasi pekerja yang mendapatkan reward dan teman-teman pekerja lain agar dapat meningkatkan standart safety di lokasi kerja. safety reward dapat diberikan sebulan sekali atau pencapaian jam kerja aman hal ini tergantung kebijakan dari perusahaan itu sendiri. 

Sumber: www.SafetySign.co.id